Senin, 06 Mei 2013

Kerajinan Batu Alam Pacitan Tembus Pasar Eropa

Kerajinan batu alam atau batu mulia dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur berhasil menembus pasar Eropa serta sejumlah negara di kawasan Timur-tengan dan Amerika.

Suparjianto, salah seorang pengusaha kerajinan batu mulia asal Desa Wereng, Kecamatan Punung, Minggu mengungkapkan, transaksi hasil kerajinan batu alam dengan pedagang luar negeri telah ia lakukan sejak tahun 2004.

"Beberapa perajin batu mulia di sini telah memiliki jaringan pembeli di luar negeri, jadi bisa ekspor langsung," terangnya.

Hal yang sama juga dilakukan perajin batu mulia lain di Kecamatan Punung maupun sekitarnya.

Meski belum ada data resmi mengenai volume atau omset pengiriman batu mulia ke luar negeri, sejumlah perajin dan pedagang menyebut aktivitas transaksi telah lama mereka jalin dengan importir luar negeri, seperti Jerman, Kanada, Amerika Serikat, Australia, maupun sejumlah negara Timur-tengah.

Diungkapkan Suparjianto, satu importir luar negeri bisa melakukan "order" (pemesanan barang) antara empat hingga lima kali dengan nilai omzet sekitar Rp400 juta hingga Rp500 juta per tahun.

Dalam sekali pemesanan, lanjut dia, pembeli minimal menginginkan 600 biji.

"Bahkan pernah sekali waktu mereka melakukan order hingga 70 ribu biji dalam satu pengiriman. Namun karena jumlah pesanan yang cukup besar, proses pengerjaannya dilakukan bertahap selama satu tahun," terangnya.

Selain melakukan transaksi langsung dengan importir luar negeri, sebagian perajin batu mulia biasanya berhubungan dengan agen atau pedagang besar di Bali.

Agen inilah yang kemudian memasarkan hasil produksi kerajinan batu mulia asal Pacitan ke pasar manca negara, seperti Amerika Serikat, Jerman, maupun Australia.

Jenis-jenis hasil produk yang dijual melalui agen di antaranya hiasan ruangan, piring, gelas, dan lain sebagainya.

Hasil kerajinan batu alam yang paling murah biasanya berbentuk hiasan bros dan cincin akik.

Sementara aksesoris batu mulia yang mahal berupa batu gambar atau batu setengah jadi yang di dalamnya muncul motif-motif tertentu.

Harga aksesoris batu alam jadi biasanya ditentukan oleh jenis batu, tekstur atau motif, warna, serta ukurannya.

"Termurah harganya sekitar Rp2.500 per biji dan paling mahal bisa mencapai Rp10 juta," terangnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Pacitan, Hery Purwanto mengatakan, saat ini pihaknya terus melakukan validasi aktivitas ekspor kerajinan batu alam ke pasar luar negeri.

Dari data di dinasnya pada tahun 2011, sedikitnya ada 96 usaha kerajinan batu alam dan batu mulia yang lokasinya tersebar di Kecamatan Punung dan Donorojo.

"Kami terus membantu pengembangan usaha mereka melalui program pelatihan dan bantuan modal, peralatan, serta promosi di pameran skala lokal dan nasional," jelas Hery.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar