Senin, 20 Mei 2013

Berkibar Bersama "Mushroom Factory"

Kini, orang - orang Surabaya memiliki kudapan favorit baru, yaitu jamur bumbu berbalur tepung yang digoreng garing, lengkap dengan sambal dan mayones sebagai pelengkap. Kudapan ini hasil kreasi Tririan Arianto melalui Mushroom Factory miliknya.


Tririan Arianto adalah seorang insinyur telekomunikasi. Namun, ternyata rezekinya justru mengalir deras dari usaha kudapan jamur bermerek Mushroom Factory. Kini, kudapan jamur produksinya sangat digemari, khususnya di Surabaya, tempat kelahirannya.

Tak heran jika saban bulan ia mampu meraup omzet antara Rp 80 juta hingga Rp 100 juta. Ia juga masuk dalam daftar finalis ajang Wirausaha Muda Mandiri yang digelar Bank Mandiri 2009 lalu. Boleh dibilang, pria yang akrab dipanggil Rian ini memulai usahanya dengan kenekatan. Ia mulai membuka gerai pertamanya September 2008.

Menu Mushroom Factory
Waktu itu, ia menyewa sebuah tempat di Mal Tunjungan Plaza. Ternyata kenekatannya berbuah hasil menggembirakan. Para pengunjung mal yang berbuka puasa langsung mengerumuni gerai tersebut.

Awalnya, para pengunjung tadi hanya penasaran. Tapi lama kelamaan, mereka ketagihan. Apalagi waktu itu harga kudapan jamurnya hanya Rp 7.000 per porsi.

Tiga bulan kemudian, ia pun membuka gerai di Royal Plaza Surabaya. Lalu berturut-turut ia menambah sehingga ia memiliki empat gerai. Akhirnya, banyak yang jadi pelanggan. Bahkan, banyak dari mereka yang meminta menjadi mitra waralabanya.

Padahal, Rian mengaku belum mengerti sistem waralaba. Ia hanya tahu bahwa sistem tersebut telah sukses. Misalnya saja, waralaba Kebab Baba Rafi dengan kudapan ala Timur Tengah-nya. Karena itu, Rian menawarkan konsep kemitraan dengan bagi hasil 70:30. Dengan sistem ini, ia berhasil menggandeng enam mitra. Tapi, mulai November 2009, Rian mulai menawarkan sistem waralaba Mushroom Factory. “Menggunakan sistem waralaba akan mempercepat pertumbuhan bisnis ini,” dalihnya.

Rian berencana, mulai gerai ke sebelas, ia tidak akan campur tangan di pengelolaan bisnis gerai mitranya. Ia hanya akan berperan sebatas pemasok bahan baku serta menjalankan promosi. Sejauh ini, semua gerai Mushroom Factory baru beroperasi di Surabaya dan sekitarnya. Tapi, kata Rian, bukan berarti tidak ada yang berniat membuka di kota lain, seperti Jakarta. Cuma, menurut Rian, kendala membuka gerai di Jakarta adalah mahalnya sewa tempat di mal. “Di Surabaya, Rp 7 juta sudah mendapat tempat premium, di Jakarta uang segitu hanya mendapatkan tempat biasa,” keluhnya.

Padahal, Rian mengatakan, lokasi gerai adalah hal penting agar produknya diingat sebagai camilan premium. Beratnya biaya sewa inilah yang mengakibatkan beberapa peminat mengurungkan niatnya membuka gerai Mushroom Factory di Jakarta.

Lantaran tak ingin menawarkan waralaba yang merugi, Rian tengah menghitung ulang untuk menemukan model bisnis yang tepat. Jadi, usahanya nanti bisa menembus pasar Jakarta. Untuk memasarkan waralabanya, Rian memanfaatkan peran teknologi. Ia sadar betul akan kekuatan dunia maya dalam membantu mempromosikan waralabanya. “Saya rajin memasarkan produk ini melalui Facebook, milis, dan website,” katanya. Kebetulan, sebagai sarjana teknik jurusan telekomunikasi, Rian sangat paham tentang seluk-beluk dunia maya.

Bercita-cita Menjadi Pengusaha
Ketika masih sekolah, pria dengan sapaan akrab Rian ini kerap tergiur saat mendengar kisah sukses pengusaha. Selain tajir, jam kerja pengusaha lebih bebas. Rian muda dengan mantap memasang cita-cita sebagai pengusaha. Padahal, dia lahir dari keluarga berlatar belakang pegawai negeri sipil. Ibu Rian berprofesi sebagai guru dan ayahnya bekerja di rumah sakit. “Tapi, rencananya saya baru jadi pengusaha setelah 30 tahun bekerja,” kata Rian, mengenang.

Rian lahir di Surabaya, Jawa Timur pada 5 Oktober 1983. Dia mengenyam pendidikan dasar hingga atas di Sidoarjo. Hingga SMP, Rian mengaku tidak terlalu aktif mengikuti kegiatan di luar sekolah.

Baru pada saat SMA dia mulai mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Ketika kuliah di Sekolah Tinggi Telekomunikasi Telkom, Rian benar-benar aktif melakukan berbagai kegiatan. Dengan pintar, dia membagi waktu untuk kuliah dan aktif di berbagai organisasi kampus, hingga menjadi asisten dosen.

Selesai kuliah, Rian hijrah ke Jakarta. Dia bekerja di sebuah vendor telekomunikasi. Baru beberapa bulan bekerja, Rian mendapat tugas membangun sistem 3G di Surabaya selama enam bulan.

Setelah itu, Rian mendapat pekerjaan baru di operator telekomunikasi dan bertugas di Makassar, Sulawesi Selatan. Dia menjadi wakil manajemen di sana. Sekitar empat bulan kemudian, perusahaan memintanya pindah ke Jakarta. “Tapi saya tolak karena sebenarnya kurang suka dengan kondisi Jakarta,” kata Rian.

Lalu, Rian bekerja di Riyadh, Arab Saudi. Bekerja di luar negeri memang salah satu hasrat Rian yang terpendam. Kebetulan, tawaran itu datang dan dia nekat mengiyakan saja, walau hanya bermodal penguasaan bahasa Inggris dan Arab yang pas-pasan.

Bersama dua orang temannya, Rian berangkat ke Arab Saudi. Baru tiga bulan bekerja, ada salah satu temannya yang merasa kurang cocok dan ingin pulang. Dengan alasan solidaritas, ketiganya kembali ke Indonesia.

Baru ketika di Indonesia, Rian mulai berpikir memulai wirausaha. Apalagi setelah mencicipi gaji bermata uang asing, dia kesulitan menemukan pekerjaan dengan gaji yang setara. Bermodal tabungan selama bekerja, pria yang hobi membaca ini mencari peluang bisnis.

Ketika tiba di Surabaya, Rian bertemu dengan salah seorang temannya yang biasa berjualan jamur di pasar. Sang teman menceritakan ia kerapkali harus menderita rugi apabila jamur segar dagangannya tidak laku. Umur efektif jamur segar yang layak konsumsi memang hanya dua hari.

Kebetulan, Rian sempat memodali usaha pengolahan jamur salah seorang temannya di Bandung. Meski usaha keripik jamur tidak berhasil, rupanya Rian cukup terkesan dan menjadi inspirasi untuk memulai usaha baru olahan jamur di Surabaya.

Saat itu, di Surabaya sedang tren kudapan kentang berbumbu. Rian lantas terpikir untuk mengadaptasi kudapan itu dalam bentuk jamur. Dia lalu menawarkan konsep itu kepada temannya.

Sang teman sepakat. Keduanya mencoba-coba resep dan melakukan uji coba kepada teman-teman dekat hingga akhirnya menemukan racikan yang tepat. Dua orang ini lantas patungan dan terkumpullah duit sebesar Rp 35 juta.

Modal patungan tersebut untuk membeli aneka peralatan masak lengkap, bahan baku, serta sewa stan di Tunjungan Plaza, Surabaya. Dan, lahirlah produk utama Mushroom Factory, yaitu jamur yang berbalut tepung yang digoreng kering.

Rian menyajikan jamur ini dalam kemasan premium. Ada dua pilihan rasa, yakni original dan tasty. Rasa original mengandalkan saus sambal dan mayonaise. Sedangkan rasa tasty memakai keju, bumbu barbeque, dan sambal tabur.

Dalam perkembangannya, Mushroom Factory juga menambah produk-produk lain, seperti brokoli, bawang bombay, dan jamur enoki impor, dalam produknya. Untuk mengamankan pasokan jamur, Rian menjalin kerjasama dengan puluhan petani jamur di Surabaya.

Wirausaha Itu Seperti Berenang
Mushroom Factory resmi beroperasi sejak September 2008 dan dalam waktu yang cukup singkat, bisnis ini menghasilkan duit yang cukup besar bagi Rian. Kenyataan ini membuat Rian melupakan niat awalnya berbisnis untuk sekadar rehat sebelum mencari pekerjaan baru.

Rian mengaku tak berminat lagi menjadi karyawan, walau keputusan ini menimbulkan sedikit masalah. Orang tuanya sulit menerima kenyataan anaknya bukan pegawai. Mereka selalu menyuruh Rian mencari pekerjaan baru.

Untuk menjaga hubungan dengan orang tua, Rian pura-pura bekerja sebagai pegawai kantoran. Dia melakukan sedikit kamuflase dengan cara berangkat pagi dan pulang agak malam, layaknya seorang karyawan kantoran.

Padahal, sepanjang hari Rian mengurusi gerai Mushroom Factory. Sesekali, dia melayani langsung konsumen sambil mengobrol untuk mengetahui pendapat mereka mengenai produknya.

Setelah beberapa bulan berjalan dan hasil usahanya terlihat, Rian akhirnya memberitahukan orang tuanya mengenai statusnya sebagai pengusaha. Butuh waktu setahun untuk meyakinkan orangtua bahwa bisnis ini bisa menghidupinya. “Apalagi setelah bisnis saya masuk koran dan televisi,” kata Rian.

Sebenarnya, penolakan dari orangtua ini bukan hambatan utama Rian. Dia mengaku sempat mengalami kesulitan mengubah pola pikir dari seorang pegawai menjadi pengusaha. Rian nekat untuk melakukan pekerjaan baru ini. Pria yang hobi meriset ini membuat analogi dunia wirausaha seperti berenang. Hanya dengan belajar teori saja tidak cukup. Orang harus melakukan kegiatan ini untuk bisa menguasainya.

Dia mengakui, banyak orang yang telanjur berpandangan bahwa menjadi pengusaha itu sulit dan penghasilannya tidak pasti. Namun bila seseorang berhasil mengubah pola pikir ini, mereka akan lebih mudah mengumpulkan keberanian menjadi pengusaha.

Kesulitan finansial juga sempat menghampiri Rian kala membuka outlet pertama. Duit hasil patungan ternyata tidak cukup. Lagi-lagi Rian nekat. Kali ini dia memakai dulu alokasi duit untuk membiayai pernikahan. Untungnya, dia bisa mengembalikan duit itu dari bisnisnya dan pernikahannya berlangsung sesuai rencana.

Usaha itu berkembang semakin pesat. Rian berencana membuka restoran jamur. Dia sudah memiliki beberapa masakan yang sudah siap masuk daftar menu. Nantinya, Rian bercita-cita, produk olahan jamur, seperti sosis dan nugget jamur, bisa menjadi oleh-oleh khas Surabaya.

Rian juga melebarkan sayap usaha dengan menjadi produsen dan distributor keripik jamur bernama Tiramizzu. Sambutan konsumen cukup baik. Pada bulan pertama usahanya, Rian mengirimkan hampir 1.000 kemasan keripik jamur kreasinya ke seluruh Indonesia. Kini Rian tengah menyiapkan website untuk mempromosikan keripik berharga jual Rp 12.000 per kemasan itu.

Selain menjadi pengusaha jamur, Rian juga menjadi agen sandal, berinvestasi di dunia telekomunikasi, dan sekaligus memiliki waralaba enam outlet teh poci. Selain itu Rian bercita-cita menyulap sebidang tanah dekat rumahnya menjadi sebuah pesantren wirausaha.

Rian mengaku betah menjadi pengusaha, meski hingga kini masih banyak tawaran yang datang kepadanya untuk menjadi karyawan telekomunikasi di luar negeri dengan gaji besar. Penghasilan bulanannya sebagai pengusaha sudah bisa mengalahkan gajinya sebagai pegawai perusahaan telekomunikasi di Indonesia dulu. Rian memasang target untuk bisa meraup pendapatan lebih besar daripada bekerja di luar negeri.

Kini Rian mengaku bisa menjalani hidupnya dengan lebih santai. Dia hanya ke kantor kalau ada keperluan. Bila tidak, dia lebih suka menghabiskan waktu untuk mempromosikan bisnisnya melalui dunia maya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar